Jumat, 07 Mei 2010

Tulung Agung

SMPN 1 TULUNGAGUNG, Jawa Timur, peraih nilai rata-rata tertinggi tingkat nasional dengan nilai mencapai 37,35 dari 364 siswa.
Good Luck!

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

The Three Lion

Sebutan untuk timnas Inggris di Piala Dunia, klubnya Alan Shearer dkk.

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

Bafana

"BAFANA BAFANA" adalah julukan untuk tim Afrika Selatan di Piala Dunia 2010 yang berarti PARA PEMUDA.

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

Hakikat Sukur

Oleh: Zaprulkhan MSI. Dosen STAIN SAS Babel


Bingkailah segala nikmat yang Anda miliki sekecil dan sesederhana apapun dengan tasyakur kepada-Nya, agar semuanya menjadi bermakna.

ORANG-orang arif mengatakan bahwa sesuatu yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia sejenak pun adalah kenikmatan. Namun meskipun setiap waktu kenikmatan senantiasa memayungi kehidupan kita, persoalannya acapkali pula kita melupakan Tuhan Sang Pemberi nikmat. Kalau demikian, bagaimanakah caranya mensyukuri segala karunia Tuhan tanpa melupakan-Nya? Saya akan meminjam perspektif ulama besar Turki, Bediuzzaman Said Nursi, dalam membingkai hakikat tasyakur terhadap nikmat, setidaknya dalam tiga aspek.

Pertama, kesadaran kita kepada Sang Pemberi nikmat jauh lebih berharga ketimbang bentuk nikmat itu sendiri, betapa pun besar dan banyaknya pemberian tersebut. Alasannya, karena kita mengetahui bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Sempurna masih sangat perhatian dan peduli kepada kita, hamba yang lemah dan hina dina ini. Pemberian-Nya itu, bagaimanapun kecilnya, merupakan bukti kepedulian dan perhatian-Nya terhadap kita. Kita merasa amat bahagia sebab mendapatkan kehormatan dari-Nya dengan karunia yang tak terhingga. Bukan semata-mata anungerah-Nya, melainkan lebih dari itu perhatian-Nya. Kesadaran ini menjadikan kita merasa amat istimewa.

Ilustrasinya begini, ketika seorang raja yang agung memberi Anda sebuah delima, maka kegembiraan Anda karena mendapatkan kehormatan dari baginda raja tentu akan jauh melampaui kesenangan material seratus, seribu, bahkan sejuta delima. Di sini Anda merasa berharga dengan kepedulian sang raja, bukan karena delima semata. Bagaimana Anda tidak senang kalau seorang raja yang agung dan mulia masih mau memperhatikan Anda sebagai rakyat jelata dengan karunianya?

Sekarang coba bayangkan keagungan Allah! Dia adalah Raja dari segala raja. Dia merajai semesta alam raya. Dia Maha Paripurna dengan segala ciptaan dan kreativitas-Nya; Dia Maha Sempurna dalam semua kasih sayang, cinta, dan karunia-Nya. Sungguh, segala kesempurnaan yang dimiliki oleh seluruh manusia, para malaikat dan golongan jin hanyalah bayangan redup atas kesempurnaan-Nya yang tidak bisa diperbandingkan!.

Nah lihatlah, Tuhan Yang Maha Sempurna dengan segala sifat, kreasi, dan tindakan-Nya itu ternyata masih sangat peduli kepada kita seorang hamba yang lemah, fakir, dan tidak berarti ini dengan mengaruniai kenikmatan. Dan sudah berapa banyak kenikmatan yang Dia berikan kepada kita? Mampukah kita menghitung anugerah-Nya? Bukankah kita merasa amat senang dan bahagia sekali mendapat penghormatan dari Allah dengan semesta pemberian-Nya? Maka pernyataan rasa syukur kita atas segala kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada kita dengan ucapan alhamdulillah itu jauh lebih bernilai dari pada wujud material kenikmatan itu sendiri. Di sini, kebahagiaan kita disebabkan kita tahu Siapa yang memberi.

Kedua, seluruh instrumen yang digunakan untuk bersyukur kepada Allah, pada saat itu juga akan menjadi mulia dalam pandangan-Nya. Lisan yang Anda gunakan untuk berzikir kepada Allah, akan menjadi agung dalam penglihatan-Nya; kedua tangan dan kaki yang Anda tasarufkan untuk menolong orang lain, akan menjelma tangan dan kaki yang mulia dalam perspektif-Nya; dan semua elemen tubuh yang Anda manfaatkan dalam beribadah kepada Allah, akan menjelma tinggi derajatnya bagi Allah, tidak peduli betapa jelek dan hinanya tubuh Anda dalam penglihatan kebanyakan manusia.

Sebaliknya, sampai di sini ada sebuah konsekuensi kontradiktif yang logis: seorang manusia yang tidak memanfaatkan tubuhnya dalam bersyukur kepada Tuhannya, niscaya tubuh itu akan berubah sangat hina dan kotor dalam pandangan Allah, meskipun ia terlihat indah, mempesona, dan begitu memikat dalam tatapan kebanyakan manusia secara lahiriah.

Dalam pengertian inilah Al-Quran mengikrarkan dengan tegas sekali, Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (QS. 9 : 28). Sebagian orang Eropa / Barat yang musyrik itu dengan tatapan lahiriah, kita melihat betapa tubuh mereka bersih dan amat mempesona, baik kaum prianya maupun kaum wanitanya. Tapi mengapa Al-Quran mendeklamasikan bahwa mereka itu najis? Karena mereka menggunakan badan mereka bukan untuk bersyukur kepada Allah dalam ketaatan, melainkan justru bermaksiat dan durhaka.

Ketiga, ketika kita mengungkapkan tasyakur kepada Allah atas nikmat yang telah Dia berikan kepada kita, sekecil apapun kenikmatan tersebut, niscaya ia akan menjelma dalam bentuk nilai surgawi yang agung. Pujian kita akan membuahkan cahaya pahala surgawi dalam bentuk yang benar-benar intrinsik bukan metaforik. Sesuap nasi dan seteguk minuman sederhana yang Anda nikmati dengan dimulai ucapan basmalah dan diakhiri dengan alhamdulillah, bukan cuma memberikan Anda kelezatan jasmaniah, melainkan juga akan menghasilkan kepuasan rohaniah dengan pahala surgawi di sisi Allah. Selembar pakaian biasa yang bersahaja yang Anda gunakan untuk besyukur dengan beribadah kepada-Nya, niscaya pakaian itu akan menghasilkan cahaya yang menerangi kegelapan di alam barzah dan akhirat kelak, sekalipun satu waktu baju itu akan hancur tak berbekas.
Makna yang ketiga ini pun ada konsekuensinya yang bersifat kontradiktif: Segala kenikmatan betapa pun besar, banyak, indah, dan mahalnya kenikmatan itu, tanpa dibarengi rasa syukur kepada Allah Sang Pemberi Anugerah, maka semua itu menjadi nista tak bernilai sama sekali. Makanan mahal yang bernama Pizza Hut atau Humburger yang Anda nikmati tanpa disertai kesadaran tasyakur kepada Tuhan, sungguh nilainya tidak lebih dari benda yang dimakan dan menjadi kotoran menjijikkan yang dikeluarkan, kendati makanan itu terasa enak ditenggorokan Anda.

Sebuah mobil babybenz, mercy, atau BMW yang paling mahal harganya sekalipun yang pemakaiannya tidak disertai ungkapan tasyakur kepada Allah, maka semuanya akan menjadi mobil duniawi yang satu waktu pasti mengalami kerusakan dan menjadi barang rongsokan tanpa memiliki nilai ukhrawi dibalik alam dunia, tidak lebih dari itu. Kenapa demikian? Pentasarupan barang-barang mahal itu hampa dari hembusan kesadaran transendental kepada Yang Empunya hakiki sehingga tidak mempunyai nilai spiritual di akhirat nanti. Karena itu, bingkailah segala nikmat yang Anda miliki sekecil dan sesederhana apapun dengan tasyakur kepada-Nya, agar semuanya menjadi bermakna, semoga. ***

Selasa, 04 Mei 2010

Hikmah Isra Miraj

Oleh Zaprulkhan

ISRA Miraj merupakan peristiwa sakral tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, dan kembali lagi ke Makkah dalam waktu yang sangat singkat.

Pertanyaannya, apakah hikmah keagungan peristiwa Isra Miraj tersebut? Tentu saja sulit untuk menguraikan hikmah keagungan peristiwa akbar tersebut secara terperinci. Sebagian ulama menyatakan bahwa untuk mengimplementasikan misi Allah, maka Dia menyibak semesta rahasia alam fisikal dan spiritual kepada Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa sakral Isra Miraj.

Sebagian ulama lain mengungkapkan bahwa peristiwa Isra Miraj dihadirkan oleh Allah untuk memahami secara faktual ayat-ayat kauniyah (fisikal) di samping sebagai pelengkap ayat-ayat qauliyah (tekstual, Al-Quran). Namun dalam paradigma Al-Quran, menurut Quraish Shihab inti dari peristiwa Isra Miraj adalah perintah menjalankan shalat lima waktu (lihat QS. 16: 78).

Karena kemuliaan sebuah peristiwa disebabkan kemuliaan sesuatu yang terjadi dalam peristiwa tersebut, maka pertanyaan selanjutnya bagaimanakah hikmah kemuliaan shalat? Lagi-lagi tidak mudah untuk menguraikan detil-detil hikmah kemuliaan shalat..

Kendati demikian, mari kita menyingkap hikmah keagungan peristiwa Isra Miraj melalui keagungan shalat dengan memotret cuplikan ayat pendek yang selalu kita senandungkan sebanyak tujuh belas kali dalam shalat kita sehari semalam, yaitu ihdinash shirathal mustaqim: tunjukilah kami jalan yang lurus. Kita akan membingkai lima hikmah makna keagungan dari ayat singkat tersebut.
.
Pertama, dengan menyenandungkan ayat tersebut, kita menyadari bahwa kita belum mengamalkan ajaran Islam secara kaffah. Boleh jadi kita masih sering berbuat maksiat baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Satu waktu Anda berada dalam ketaatan, di lain waktu Anda hanyut dalam kemaksiatan. Satu kesempatan Anda menjadi orang yang ahli ibadah, pada kesempatan lain Anda menjadi orang yang ahli maksiat. Secara terang-terangan Anda tunjukkan kesalehan Anda kepada orang lain, namun dalam kesendirian acapkali Anda melakukan kedurhakaan. Di rumah Tuhan Anda seolah-olah menjadi seorang malaikat yang patuh, tapi di kantor Anda berubah menjadi seorang koruptor yang membuat bangsa ini keropos.

Begitu pula jika Anda mampu menjauhi berbagai maksiat lahiriah, sanggupkah Anda menghindari maksiat batiniah? Jika Anda mampu menjaga kedua mata, mengekang lisan, kedua tangan dan kaki Anda dari perbuatan maksiat, sanggupkah Anda terbebas dari puspa ragam penyakit hati?

Kalau Anda mampu menjauhi kesombongan, bisakah Anda terbebaskan dari penyakit ujub? Bila Anda bisa melepaskan bahaya kedengkian, dapatkah Anda mengeluarkan penyakit hubbud dunia (cinta dunia yang membabi buta) dari wilayah kalbu Anda?

Dan apabila Anda tidak kikir, mampukah Anda menghindari jebakan-jebakan riya yang dihembuskan setan dengan amat lembut, samar, dan tak tersentuh oleh kebanyakan nalar manusia? Dengan perspektif ini, maka kita harus senantiasa mengucapkan doa singkat tersebut.

Kedua, sebagai konsekuensi dari yang pertama, doa itu kita butuhkan untuk memperbaiki kualitas keimanan kita, karena setiap kita sangat rentan untuk tersandung dalam perbuatan-perbuatan munkar.

Saat berbuat kesalahan, maksiat, dan kedurhakaan, Anda masih berada dalam naungan Islam, namun cahaya keimanan Anda ternodai gelapnya dosa-dosa yang menyelubungi kalbu Anda.

Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dengan lingkaran Islam yang paling besar dan di dalamnya ada lingkaran iman.

Tatkala seorang mengerjakan kemaksiatan atau dosa-dosa besar, boleh jadi ia sudah kehilangan imannya yang hakiki walaupun ia masih seorang Muslim..

Itu artinya kita sudah menyimpang dari jalan yang lurus sehingga doa itu perlu kita kumandangkan setiap waktu.

Ketiga, dengan melantunkan ayat pendek itu kita diajarkan untuk bersikap rendah hati kepada sesama manusia. Kenapa demikian?

Karena yang mengetahui jalan yang lurus dan benar secara hakiki hanya Allah semata. Ayat pendek ini berpesan agar dalam pergaulan hidup dengan manusia lain, saat berdiskusi, berkumpul, dan berdialog, adalah sangat arif dan bijak. Bila kita mau mendengarkan pendapat pihak lain sesederhana apapun argumentasi mereka dan tidak memaksakan apalagi memutlakkan pendapat kitalah yang harus diterima dan paling benar. Doa ini mengajarkan kita mengakui kerelatifan wawasan dan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

Keempat, dalam doa singkat itu terkandung makna solidaritas sosial. Kita menyibak pengertian ini melalui sudut pandang gramatikal. Frase ihdina dalam ayat itu menggunakan dhomir mutakallim maal ghoir, (na), yang berarti kami.

Ketika Anda shalat berjamaah ataupun sendirian, Anda tetap harus memakai dhamir na, kami dan tidak boleh diganti dengan dhomir mutakallim wahdah, hanya Anda sendiri sehingga menjadi ihdini, tunjukilah aku. Apa maksudnya? Melalui doa ini kita melakukan ikatan persaudaraan spiritual dengan setiap Muslim yang melintasi batas-batas sektoral, kultural, teritorial, geografis, maupun bangsa dan negara.

Secara biologis-fisikal, kita memang tidak kenal dengan orang-orang Muslim di Amerika Serikat, Inggris, Bosnia, Palestina, Cina, dan mungkin tidak akan pernah berkenalan dengan mereka, namun secara psikologis-spiritual mereka semuanya harus terangkum dalam kidung suci doa-doa kita. Jadi secara batiniah setiap orang Islam tidak terpisah, kita semua menyatu dalam bingkai lafaz: ihdinash shirathal mustaqim.

Terakhir, sebagai konklusi dari semua makna di atas, ayat pendek itu mendidik kita agar berdoa secara universal bukan partikular; secara kulli (menyeluruh, holistik) bukan juzi (sebagian, parsial). Kalau Anda hanya berdoa agar diberi kekayaan, menjadi seorang menteri atau menjadi seorang pengusaha besar, sebenarnya Anda sudah terjebak dalam kategori doa juzi, bukan kulli.

Namun ketika Anda melantunkan ihdinash shirothol mustaqim, sesungguhnya doa itu sudah merangkum segala damba-damba Anda, termasuk yang tak teraspirasikan dalam benak Anda. Dan sangat mungkin sekali, Allah akan memberikan yang terbaik kepada Anda dan sangat sesuai dengan kapasitas diri Anda, walaupun hal itu bukan yang Anda inginkan.

Pada titik inilah, kita melihat betapa mulianya hikmah shalat. Kalau cuplikan ayat singkat yang kita baca dalam shalat itu saja sudah mengandung makna kebajikan secara vertikal dan horisontal, lalu bagaimana dengan makna ayat-ayat lainnya?

Jika penggalan singkat ayat itu saja sudah bisa mengantarkan setiap kaum Muslim meraih puncak kebahagiaan hari ini dan di hari mendatang, kira-kira bagaimana dengan kagungan hikmah lafaz-lafaz lain yang selalu kita baca dalam shalat? Pada konteks ini pula, kita melihat betapa agungnya peristiwa Isra Miraj bagi kita semua.

Karena itu, dalam memperingati peristiwa Isra Miraj kali ini, mari kita perbaiki ibadah shalat kita. Mari kita pahami, hayati, dan amalkan makna-makna lafaz yang selalu kita baca dalam shalat, dengan harapan semoga Allah membimbing kita ke jalan yang lurus dan menganugerahkan kebahagiaan duniawi-ukhrawi. Amin


Chicken

Goose