Selasa, 11 Mei 2010

Antara Ibadah Individual dan Sosial

Oleh: Zaprulkhan MSI. Dosen STAIN Syaikh Abdurahman Siddik
edisi: 07/May/2010 wib

Agama Islam sebenarnya meletakkan dimensi ibadah sosial lebih besar ketimbang dimensi ibadah individual


MENGAPA sebagian kita merasa telah melakukan ibadah ketika menjalankan salat dan menunaikan zakat, tapi belum merasa beribadah saat memberi pakaian kepada orang-orang yang telanjang dan memberi makanan kepada anak-anak yatim yang kelaparan? Kenapa tidak sedikit di antara kita yang sudah merasa melakukan kesalehan hanya dengan beribadah haji dan puasa, namun tidak peduli dengan keterbelakangan dan lemahnya pendidikan anak-anak bangsa kita? Dan bersama senandung ayat-ayat suci Al-Quran yang kita lafazkan dengan khusyuk, serta putaran tasbih atas wirid-wirid sakral kita di tengah malam yang sunyi, kebanyakan kita merasa seolah-olah sudah menjadi orang saleh, meskipun kita tidak mau ambil pusing dengan dekadensi moral dan jerit tangis orang-orang lemah yang menuntut haknya.

Kesalehan kita lebih cenderung bersifat ritualistik, seremonialistik, individualistik, dan vertikalistik. Anehnya, sebagian kita merasa bangga dengan kesalehan individualistik tersebut dan melalaikan kesalehan-kesalehan sosial lainnya yang justru nilai keagungannya jauh lebih besar ketimbang ibadah-ibadah individual. Lihatlah para artis dan orang-orang kaya yang melakukan ibadah haji berulang-ulang kali hanya untuk mengejar “kenikmatan spiritual” individual semata. Padahal kalau dana untuk ibadah haji yang berulang-ulang itu diberikan kepada anak-anak atau mahasiswa-mahasiswa miskin yang berprestasi namun tidak mampu mencari dana untuk kuliah ke tingkat yang lebih tinggi, tentu saja nilai pahalanya akan jauh lebih besar.

Pada titik inilah, setidaknya kita perlu melakukan klarifikasi tentang proporsi ibadah-ibadah yang kita kerjakan. Agama Islam sebenarnya meletakkan dimensi ibadah sosial lebih besar ketimbang dimensi ibadah individual. Karena masih banyak yang terjebak dengan ibadah individual dan melupakan ibadah sosial, mari kita lihat beberapa alasan tentang keutamaan ibadah sosial daripada ibadah individual.

Pertama, dalam Al-Quran dan kitab-kitab hadis, proporsi terbesar diberikan berkenaan dengan ibadah sosial bukan ibadah individual. Menurut Harun Nasution dalam Islam Rasional, ayat-ayat yang berhubungan dengan ibadah individual hanya berjumlah seratus empat puluh ayat. Sedangkan secara spesifik, yang berhubungan dengan ibadah sosial berjumlah dua ratus dua puluh delapan, belum lagi ditambah dengan ayat-ayat Madaniyah yang berjumlah 23 persen lebih dari keseluruhan ayat-ayat Al-Quran.

Kedua, bila ibadah individual bersamaan waktunya dengan urusan ibadah sosial yang penting, maka ibadah individual boleh diperpendek atau ditangguhkan, walaupun bukan untuk ditinggalkan. Rasulullah Bersabda, “Aku sedang salat dan aku ingin memanjangkannya, tetapi aku dengar tangisan bayi, aku pendekkan salatku, karena aku menyadari kecemasan ibunya dengan tangisan anaknya” (HR. Bukhari & Muslim). Dalam hadis lain juga Rasulullah mengingatkan para imam agar memperpendek salatnya bila di tengah jamaah ada orang yang sakit, orang lemah, orang tua, atau orang yang mempunyai keperluan.

Ketiga, ibadah yang mengandung aspek sosial kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat individual perseorangan. Karena itu, salat jamaah lebih tinggi nilainya daripada salat munfarid (sendirian) dua puluh tujuh derajat menurut riwayat yang sahih dalam hadis Bukhari, Muslim, dan ahli hadis yang lain.

Keempat, bila urusan ibadah individual dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan ibadah sosial. Bila shaum (puasa) tidak mampu dilakukan, maka menunaikan fidyah, yaitu makanan bagi orang miskin harus dibayarkan. Bila suami istri bercampur siang hari di bulan Ramadhan atau istri dalam keadaan haid, tebusannya ialah memberi makan kepada orang miskin.

Namun sebaliknya, bila orang tidak baik dalam urusan ibadah sosial, maka aspek ibadah individualnya tidak bisa menutupinya. Yang merampas hak orang lain tidak dapat menghapus dosanya dengan salat tahajud.

Orang-orang yang melakukan kezaliman tidak hilang dosanya dengan hanya membaca zikir atau wirid seribu kali. Bahkan Rasulullah menegaskan bahwa ibadah individual tidak akan bermakna bila pelakunya melanggar norma-norma kesalehan sosial. “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan”, Dan tidak masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”, demikian peringatan beliau. Sedangkan dalam Al-Quran, orang-orang yang salat akan celaka, bila ia menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang-orang miskin, riya dalam amal perbuatan, dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang-orang lemah (Surat Al-Ma’un).

Kelima, dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal kebajikan dalam bidang sosial kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah. Dalam hubungan ini, kita menemukan hadis yang senada yaitu, “Orang-orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang-orang miskin, adalah seperti pejuang di jalan Allah, dan seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus puasa” (HR. Bukhari & Muslim). Pada hadis yang lain, beliau juga bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Maukah engkau aku beritahukan derajat apa yang lebih utama daripada salat, puasa, dan sedekah? (para sahabat menjawab, tentu). Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar” (HR. Abu Dawud & Ibn Hibban). Dan beliau juga bersabda, “Mencari ilmu satu saat adalah lebih baik daripada salat satu malam, dan mencari ilmu satu hari adalah lebih baik daripada puasa tiga bulan” (HR. Ad-Dailami).

Hadis-hadis tersebut menunjukkan dengan transparan bahwa amal-amal kebajikan yang bersifat sosial kemasyarakatan, seperti menyantuni kaum fakir miskin, mendamaikan pihak yang bertengkar, meringankan penderitaan orang lain, dan berusaha menuntut ilmu pengetahuan, mendapatkan ganjaran pahala yang lebih besar ketimbang ibadah-ibadah sunnah. Jadi dalam perspektif Islam yang holistik, ibadah sosial memiliki nilai kemuliaan yang jauh lebih tinggi, besar, dan mulia ketimbang ibadah individual.

Paparan di atas, tidak sedikit pun bermaksud memandang ringan ibadah-ibadah individual, seperti salat, zakat, puasa, haji, dan ibadah-ibadah individual lainnya. Namun hendak menempatkan ibadah sosial berada dalam proporsi yang tepat dalam doktrin Islam. Karena itu, kalau kita sudah mampu menunaikan sebagian besar ibadah-ibadah yang bersifat individual, maka kita juga seharusnya peduli dengan kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, dekadensi moral, kebatilan, dan beragam problematika sosial yang mengundang kepedulian kita semua sebagai bentuk ibadah sosial. ***

Senin, 10 Mei 2010

40/almu'min/ghafir.1-3

1. HaamIIIm.
2. Tanziilul kitaabi minallaahil 'aziizil 'aliim.
3. GHAFIRIDZ DZANBI wa QAABILIT TAWBI syadiidil 'iqaabi (sangat keras siksa-Nya), dzith thawli (yang mempunyai karunia), LAAA ilaaha illaa HUWA, ilayyal mashir.

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

Dystar

Jumat, 07 Mei 2010

Tulung Agung

SMPN 1 TULUNGAGUNG, Jawa Timur, peraih nilai rata-rata tertinggi tingkat nasional dengan nilai mencapai 37,35 dari 364 siswa.
Good Luck!

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

The Three Lion

Sebutan untuk timnas Inggris di Piala Dunia, klubnya Alan Shearer dkk.

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

Bafana

"BAFANA BAFANA" adalah julukan untuk tim Afrika Selatan di Piala Dunia 2010 yang berarti PARA PEMUDA.

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

Hakikat Sukur

Oleh: Zaprulkhan MSI. Dosen STAIN SAS Babel


Bingkailah segala nikmat yang Anda miliki sekecil dan sesederhana apapun dengan tasyakur kepada-Nya, agar semuanya menjadi bermakna.

ORANG-orang arif mengatakan bahwa sesuatu yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia sejenak pun adalah kenikmatan. Namun meskipun setiap waktu kenikmatan senantiasa memayungi kehidupan kita, persoalannya acapkali pula kita melupakan Tuhan Sang Pemberi nikmat. Kalau demikian, bagaimanakah caranya mensyukuri segala karunia Tuhan tanpa melupakan-Nya? Saya akan meminjam perspektif ulama besar Turki, Bediuzzaman Said Nursi, dalam membingkai hakikat tasyakur terhadap nikmat, setidaknya dalam tiga aspek.

Pertama, kesadaran kita kepada Sang Pemberi nikmat jauh lebih berharga ketimbang bentuk nikmat itu sendiri, betapa pun besar dan banyaknya pemberian tersebut. Alasannya, karena kita mengetahui bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Sempurna masih sangat perhatian dan peduli kepada kita, hamba yang lemah dan hina dina ini. Pemberian-Nya itu, bagaimanapun kecilnya, merupakan bukti kepedulian dan perhatian-Nya terhadap kita. Kita merasa amat bahagia sebab mendapatkan kehormatan dari-Nya dengan karunia yang tak terhingga. Bukan semata-mata anungerah-Nya, melainkan lebih dari itu perhatian-Nya. Kesadaran ini menjadikan kita merasa amat istimewa.

Ilustrasinya begini, ketika seorang raja yang agung memberi Anda sebuah delima, maka kegembiraan Anda karena mendapatkan kehormatan dari baginda raja tentu akan jauh melampaui kesenangan material seratus, seribu, bahkan sejuta delima. Di sini Anda merasa berharga dengan kepedulian sang raja, bukan karena delima semata. Bagaimana Anda tidak senang kalau seorang raja yang agung dan mulia masih mau memperhatikan Anda sebagai rakyat jelata dengan karunianya?

Sekarang coba bayangkan keagungan Allah! Dia adalah Raja dari segala raja. Dia merajai semesta alam raya. Dia Maha Paripurna dengan segala ciptaan dan kreativitas-Nya; Dia Maha Sempurna dalam semua kasih sayang, cinta, dan karunia-Nya. Sungguh, segala kesempurnaan yang dimiliki oleh seluruh manusia, para malaikat dan golongan jin hanyalah bayangan redup atas kesempurnaan-Nya yang tidak bisa diperbandingkan!.

Nah lihatlah, Tuhan Yang Maha Sempurna dengan segala sifat, kreasi, dan tindakan-Nya itu ternyata masih sangat peduli kepada kita seorang hamba yang lemah, fakir, dan tidak berarti ini dengan mengaruniai kenikmatan. Dan sudah berapa banyak kenikmatan yang Dia berikan kepada kita? Mampukah kita menghitung anugerah-Nya? Bukankah kita merasa amat senang dan bahagia sekali mendapat penghormatan dari Allah dengan semesta pemberian-Nya? Maka pernyataan rasa syukur kita atas segala kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada kita dengan ucapan alhamdulillah itu jauh lebih bernilai dari pada wujud material kenikmatan itu sendiri. Di sini, kebahagiaan kita disebabkan kita tahu Siapa yang memberi.

Kedua, seluruh instrumen yang digunakan untuk bersyukur kepada Allah, pada saat itu juga akan menjadi mulia dalam pandangan-Nya. Lisan yang Anda gunakan untuk berzikir kepada Allah, akan menjadi agung dalam penglihatan-Nya; kedua tangan dan kaki yang Anda tasarufkan untuk menolong orang lain, akan menjelma tangan dan kaki yang mulia dalam perspektif-Nya; dan semua elemen tubuh yang Anda manfaatkan dalam beribadah kepada Allah, akan menjelma tinggi derajatnya bagi Allah, tidak peduli betapa jelek dan hinanya tubuh Anda dalam penglihatan kebanyakan manusia.

Sebaliknya, sampai di sini ada sebuah konsekuensi kontradiktif yang logis: seorang manusia yang tidak memanfaatkan tubuhnya dalam bersyukur kepada Tuhannya, niscaya tubuh itu akan berubah sangat hina dan kotor dalam pandangan Allah, meskipun ia terlihat indah, mempesona, dan begitu memikat dalam tatapan kebanyakan manusia secara lahiriah.

Dalam pengertian inilah Al-Quran mengikrarkan dengan tegas sekali, Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (QS. 9 : 28). Sebagian orang Eropa / Barat yang musyrik itu dengan tatapan lahiriah, kita melihat betapa tubuh mereka bersih dan amat mempesona, baik kaum prianya maupun kaum wanitanya. Tapi mengapa Al-Quran mendeklamasikan bahwa mereka itu najis? Karena mereka menggunakan badan mereka bukan untuk bersyukur kepada Allah dalam ketaatan, melainkan justru bermaksiat dan durhaka.

Ketiga, ketika kita mengungkapkan tasyakur kepada Allah atas nikmat yang telah Dia berikan kepada kita, sekecil apapun kenikmatan tersebut, niscaya ia akan menjelma dalam bentuk nilai surgawi yang agung. Pujian kita akan membuahkan cahaya pahala surgawi dalam bentuk yang benar-benar intrinsik bukan metaforik. Sesuap nasi dan seteguk minuman sederhana yang Anda nikmati dengan dimulai ucapan basmalah dan diakhiri dengan alhamdulillah, bukan cuma memberikan Anda kelezatan jasmaniah, melainkan juga akan menghasilkan kepuasan rohaniah dengan pahala surgawi di sisi Allah. Selembar pakaian biasa yang bersahaja yang Anda gunakan untuk besyukur dengan beribadah kepada-Nya, niscaya pakaian itu akan menghasilkan cahaya yang menerangi kegelapan di alam barzah dan akhirat kelak, sekalipun satu waktu baju itu akan hancur tak berbekas.
Makna yang ketiga ini pun ada konsekuensinya yang bersifat kontradiktif: Segala kenikmatan betapa pun besar, banyak, indah, dan mahalnya kenikmatan itu, tanpa dibarengi rasa syukur kepada Allah Sang Pemberi Anugerah, maka semua itu menjadi nista tak bernilai sama sekali. Makanan mahal yang bernama Pizza Hut atau Humburger yang Anda nikmati tanpa disertai kesadaran tasyakur kepada Tuhan, sungguh nilainya tidak lebih dari benda yang dimakan dan menjadi kotoran menjijikkan yang dikeluarkan, kendati makanan itu terasa enak ditenggorokan Anda.

Sebuah mobil babybenz, mercy, atau BMW yang paling mahal harganya sekalipun yang pemakaiannya tidak disertai ungkapan tasyakur kepada Allah, maka semuanya akan menjadi mobil duniawi yang satu waktu pasti mengalami kerusakan dan menjadi barang rongsokan tanpa memiliki nilai ukhrawi dibalik alam dunia, tidak lebih dari itu. Kenapa demikian? Pentasarupan barang-barang mahal itu hampa dari hembusan kesadaran transendental kepada Yang Empunya hakiki sehingga tidak mempunyai nilai spiritual di akhirat nanti. Karena itu, bingkailah segala nikmat yang Anda miliki sekecil dan sesederhana apapun dengan tasyakur kepada-Nya, agar semuanya menjadi bermakna, semoga. ***